Kata Mutiara
Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa,tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka. (Soekarno)

Agenda
Artikel
Kamis, 10 April 2008 15:20
HARMONI TIONGHOA SUNDA
HARMONI TIONGHOA SUNDA     
 

Mengapa Imlek identik dengan hujan? Di Tiongkok, Imlek bertepatan dengan hari raya musim semi, yaitu pertanda dimulainya kegiatan pertanian. Di Indonesia sendiri, Imlek bertepatan dengan musim hujan. Setiap orang mungkin memaknai Imlek dengan berbeda. Bagi sastrawan dan budayawan Sunda keturunan Tionghoa, Drs. Soeria Disastra, Tahun Baru Imlek dipenuhi harapan untuk mendapat kehidupan yang aman, bahagia, dan mudah rezeki. Biasanya, Imlek juga dirayakan dengan tampilan berbagai kebudayaan Tionghoa seperti barongsai, lentera merah, dan petasan.

Memang, kebudayaan Tionghoa tak hanya terlihat saat perayaan Imlek. Dalam kehidupan sehari-hari, meja makan kita terasa tak lengkap tanpa teufu (tahu), yang notabene dari Tionghoa. Sebenarnya pembauran kebudayaan Tionghoa dengan kebudayaan Sunda sudah terjadi di Bandung sejak lama. Hal tersebut diakui Soeria Disastra saat ditemui di kediamannya di Bandung, Sabtu (2/2) pagi.

Dia mengatakan, warga Tionghoa yang lahir dan besar di Bandung pada umumnya memiliki dua bahasa ibu yaitu bahasa dialek Tionghoa dan bahasa Sunda. "Kebudayaan Sunda dan Tionghoa saling memengaruhi," kata pria yang fasih berbahasa Sunda ini.

Banyak unsur kebudayaan Sunda yang ada dalam kebudayaan Tionghoa, begitu pun sebaliknya. Pembauran budaya Sunda ke dalam budaya Tionghoa, misalnya, pada penggunaan kain khas orang Sunda, samping atau sinjang, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat keturunan Tionghoa. Padahal, di Tiongkok sendiri tidak ada samping. Tradisi menebar bunga rampe di malam Jumat yang ada dalam tradisi Sunda, kini sudah menjadi kepercayaan bagi beberapa orang Tionghoa yang tinggal di Bandung. Konon, mereka percaya dengan menebar bunga rampe, rezeki akan lebih mudah datang.

Pembauran budaya Tionghoa ke dalam budaya Sunda juga dapat dilihat dari berbagai makanan atau masakan seperti capcay, somay atau siomay, dan lain-lain yang asli dari Tiongkok tetapi disukai juga oleh orang Sunda.

Selain itu, dalam hal kesenian, banyak idiom gerak, warna, kostum, dan instrumen kesenian Mandarin yang diadaptasi dan menjadi bentuk kesenian Sunda, terutama di wilayah pesisir. Topeng Banjet, Gambang Kromong, Topeng Cisalak, silat (maen po), dan sebagainya sarat dengan warna Mandarin.

**

Pengaruh kebudayaan Tionghoa pada masyarakat Sunda pada mulanya tumbuh melalui hubungan dagang. Namun, hubungan tersebut beberapa kali mengalami pasang surut, terutama pada zaman Belanda. Pada masa itu posisi orang Tionghoa berada di tengah, antara orang Belanda dan penduduk pribumi. Sebagian besar orang Tionghoa bersikap kooperatif dengan Belanda. Hal ini menimbulkan sikap sinis dari orang Sunda.

Setelah komunisme di Indonesia hancur, hubungan Tionghoa-Sunda sedikit demi sedikit mulai dibangun kembali. Hasilnya dapat disaksikan saat ini, salah satunya dengan pembauran budaya Tionghoa dengan budaya Sunda. Kini warga keturunan Tionghoa dapat hidup berdampingan dalam suasana aman dan damai dengan urang Sunda.

Menurut pengamatan Soeria Disastra, saat ini jumlah warga keturunan Tionghoa mencapai 10% hingga 15% dari jumlah penduduk Indonesia. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar setelah suku Jawa dan Sunda. Sementara di Bandung jumlahnya sekitar 10% dari jumlah penduduk.

Seiring perjalanan waktu terbentuklah beberapa komunitas di antara mereka. Di Bandung terdapat komunitas Tionghoa pencinta budaya Sunda yang mendirikan lembaga kebudayaan. Misalnya saja Lembaga Kebudayaan Mekar Parahyangan, Pasundan Asih, dan Komunitas Sastra Tionghoa Indonesia.

Lembaga tersebut biasanya melakukan kegiatan bersama dengan lembaga kebudayaan Sunda lain agar kebudayaan Sunda dan Tionghoa bisa bersatu. Contoh kegiatannya acara pembacaan sajak Sunda atau lomba menulis cerpen Sunda. Lembaga tersebut kerap mengadakan acara kesenian Sunda seperti Jaipongan. (Hanif Hafsari Chaeza, Eric Senjaya/Pusat Data Redaksi "PR")***

Pikiran Rakyat Bandung, Rabu 6 Februari 2008

(Redaksi)
 
Rating Berita : Excellent!
 
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar