Kata Mutiara
jANGAN Membuang Waktu Barang Semenit pun Untuk Memikirkan Orang-OraNG Yang Tidak Kita Sukai
-EISSENHOWER-
Agenda
Profil Pilihan
Rabu, 26 Maret 2008 11:28
Tak Lagi Urus Pemasaran, Fokus ke Produksi
PT Wangta Agung, Ikon Produsen Sepatu Jatim yang Masih Bertahan
PT Wangta Agung, Ikon Produsen Sepatu Jatim yang Masih Bertahan
Tak Lagi Urus Pemasaran, Fokus ke Produksi

www.jawapos.co.id. Senin, 01 Okt 2007
RIZKI ANSANTA, Surabaya


RAK etalase di ruang pertemuan PT Wangta Agung di kawasan Jalan Simo Pomahan itu dipenuhi berbagai jenis produk sepatu. Mulai dari yang mahal sampai yang murah. Yang atas, middle, sampai yang bawah. Satu per satu sepatu lalu diturunkan untuk didiskusikan. Mulai dari jenis sol-nya, lapisan atasnya, sampai kisaran harganya.

"Nah, kalau mau yang paling aman untuk olahraga ya yang ini," kata Suhadi Wijaya, bos PT Wangta Agung, sambil menunjuk sepatu badminton dengan sol yang terbuat dari bahan karet alami.

Hari itu, Kamis (25/9) Suhadi dan staf memang sengaja mengajak diskusi tim Jawa Pos yang dipimpin Azrul Ananda, wakil direktur PT Jawa Pos, tentang perkembangan industri sepatu -terutama jenis sport-di tanah air. Azrul yang kebetulan beberapa bulan terakhir sering menetap di Tiongkok sekaligus dikenal banyak mengamati desain sepatu sport, diajak sharing tentang prospek bisnis sepatu sport di tanah air.

PT Wangsa adalah salah satu pabrik sepatu yang masih eksis di tanah air. Berdiri sejak 1970-an, perusahaan ini sudah mengalami berbagai pasang surut industri sepatu di Jatim. Pada 1990-an, saat Indonesia tercatat sebagai eksporter sepatu terbesar nomor tiga dunia, perusahaan ini sudah mengekspor produknya ke Eropa dan Benua Amerika.

Kini, Tiongkok dan Vietnam tampil menjadi pesaing yang menawarkan harga produksi yang lebih murah, iklim perburuhan yang lebih baik, termasuk insentif menarik dari pemerintahnya, sehingga banyak order sepatu yang beralih ke kedua negara itu. Tahun lalu pangsa pasar ekspor sepatu Indonesia tinggal sekitar 3 persen.

Edi, panggilan akrab Suhadi, yang sering ke Tiongkok itu mengaku sangat terkesan dengan perkembangan industri persepatuan Tiongkok yang berkembang sangat cepat, bahkan penetrasinya mampu mengalahkan Taiwan atau Korsel yang dulu amat mewarnai kancah persepatuan di pasar Asia Pasifik dan Eropa. "Industri (sepatu) kita harus banyak belajar dari Tiongkok," ujar yang akrab dipanggil Edi itu.

Booming industri sepatu di Tiongkok ini terasa tiga hingga empat tahun tahun terakhir. Dalam setahun terakhir, pabrik-pabrik sepatu di Jin Jiang di kawasan Tiongkok Selatan, misalnya, mampu menambah mesin produksi dari rata-rata tiga sampai empat menjadi 11 unit.

Sebelumnya, pusat industri berada di Guangzhou. Karena banyak tekanan dan sudah makin keras persaingannya, kiblatnya sekarang berpindah ke Jin Jiang. Yang menarik, seiring dengan meningkatnya daya beli warga di sana, harga sepatu juga membaik. "Kini di tingkat ritel harga sepatu Made in China harganya rata-rata sudah atas Rp
200 ribu. Tahun lalu masih Rp 150 ribu," katanya.

Lalu, apa yang membuat industri sepatu di Tiongkok jadi begitu digdaya? itu karena industri di sana ditopang oleh home industry yang kuat, masif, dan menyebar kemana-mana. Inilah yang menyebabkan industri sepatu di sana bisa lebih efisien, khususnya dalam hal pengelolaan tenaga kerja. "Jangan heran, industri rumah tangganya malah lebih banyak daripada pabrik-pabrik besar," katanya.

Yang tidak kalah penting, kata dia, industri di sana tidak pernah kesulitan mendapatkan bahan baku karena dukungan (support) penuh dari pemerintah. Tiongkok mempermudah akses bahan baku, termasuk memberi insentif tarif bea masuk 0 persen, asal bertujuan untuk memberdayakan industri lokal.

"Indikator efisien itu juga bisa dari cepat atau tidaknya bahan baku didapat. Jangan malah berlarut-larut, apalagi mahal," katanya. Dukungan seperti inilah yang meswtinya dilakukan pemerintah RI untuk membangkitkan kembali masa kejayaan industri sepatu nasional.

Makanya, dia kurang yakin saat baru-baru ini pemerintah melaporkan ada banyak perusahaan Tiongkok dan Taiwan yang akan berinvestasi di Jatim. Kata dia, membangun industri sepatu baru bukan perkara mudah. Bahan baku yang sulit dan mahal serta persoalan klasik birokrasi Indonesia yang kurang pro bisnis menjadi alasannya. Kenyataannya, relokasi pabrik sepatu dari luar negeri itu tak terjadi.

"Paling cuma masuk lewat kontainer. Barangnya tetap diproduksi di sana (Tiongkok) tapi dokumennya dibuat di sini (Indonesia) untuk diekspor kembali ke pasar internasional," katanya. Produk Tiongkok memang dikenai sanksi antidumping oleh Eropa sehingga bea masuknya mahal. Kendala tarif inilah yang disiasati Tiongkok dengan mencari dokumen asal dari Indonesia yang tarif bea masuknya lebih murah.

Menurut dia, saat ini perusahaan yang sudah tua seperti PT Wangta yang masih bertahan. Salah satu kuncinya, sejak tiga tahun terakhir PT Wangta lebih terkonsentrasi di produksi. "Kami hanya mengerjakan job order di beberapa merek seperti Ardilles, Long Age, dan lainnya. Kami tidak lagi berpikir tentang marketing," terangnya.

Dengan kerja yang fokus itulah, perusahaannya jadi lebih optimal dalam memaksimalkan seluruh komponen sumber daya manusia yang ada di dalamnya. "Kerja kami juga didukung oleh mesin-mesin yang bermutu. Kemampuan tenaga kerja kami juga tidak kalah dengan Tiongkok," katanya.

Suhadi mengaku ingin belajar soal kehebatan industri sepatu dari Tiongkok yang memiliki fighting spirit luar biasa. "Pabrik-pabrik di sana beroperasi 24 jam. Bahkan, pimpinan dan showroom-nya masih bisa melayani buyers hingga jam 23.00," katanya.

Edi mengaku punya pengalaman mengesankan saat punya janji bertemu dengan pengusaha di Tiongkok. Saat itu pesawatnya mendarat di sana tengah malam, sehingga terpaksa menelepon mitranya takut tak bisa bertemu karena jam kantor sudah tutup. "Ternyata, saya ditunggu dan masih dilayani di kantor hingga pukul 01.00 dini hari," katanya. (*)



(Redaksi)
 
Rating Berita : Excellent!
 
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar