Kata Mutiara
Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa,tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka. (Soekarno)

Agenda
Berita
Senin, 26 Pebruari 2007 18:05
Harry dan Iin dalam Mandarin

Di tengah bisnis musik yang meriah di Tanah Air, duet penyanyi Harry dan Iin memberi warna lain. Selain membawakan lagu pop Mandarin, mereka juga menyanyikan lagu daerah atau keroncong dalam bahasa Mandarin, seperti Ayo Mama, Sing Sing So, sampai Bengawan Solo.

Sabtu (17/2) ini duet Harry dan Iin dijadwalkan tampil di Ambon. Pulau ini mempunyai arti tersendiri bagi mereka. Ayo Mama, salah satu lagu daerah Maluku, sering mereka bawakan dalam bahasa Mandarin di depan publik China.

Mereka membawakan lagu daerah Indonesia di kota-kota di China, seperti Shanghai, Nanning, sampai Shatou. Lirik lagu diubah dalam bahasa Mandarin agar lebih komunikatif. Mereka pernah datang di sebuah kampung di Nanning, Guang Xi, di mana banyak bermukim bekas warga negara Indonesia.

“Waktu kami menyanyikan lagu Ayo Mama, penonton ikut menirukan sambil bertepuk tangan dari intro sampai akhir lagu,” kenang Harry (40), pria kelahiran Solo yang bernama lengkap Haryanto Wito Atmodjo.

“Waktu kami nyanyi Halo Halo Bandung mereka nangis. Selesai show, ada ibu-ibu membawakan kami sambal terasi,” tutur Iin (34), putri Solo yang bernama lengkap Indriati.

“Bengawan Solo”

Lagu-lagu daerah yang dibawakan Harry dan Iin disukai warga China yang pernah tinggal di Indonesia dan mereka yang mengenal lagu-lagu Indonesia. Duet Harry dan Iin semula dibentuk untuk melayani publik pengguna bahasa Mandarin yang menyukai lagu Indonesia.

Alkisah pada pertengahan era 1990-an, seorang warga negara China datang ke Jakarta memburu kaset-kaset lagu keroncong dan lagu daerah. Ia mendapatkan lagu-lagu seperti Sing Sing So dan Bengawan Solo dari kaset produksi perusahaan rekaman Gema Nada Pertiwi (GNP).

Tahun 1996, dinas kebudayaan di Shanghai mengundang produser GNP, Hendarmin Susilo, untuk berpartisipasi pada Malam Bengawan Solo di kota itu.

Hendarmin lalu membentuk pasangan duet putra-putri untuk menyanyikan lagu daerah dalam bahasa Mandarin. Lewat audisi terpilih pasangan Harry dan Iin. Mereka bergabung dengan rombongan lain, seperti Waldjinah dan Gesang, penggubah Bengawan Solo.

Di Shanghai, Harry dan Iin membawakan lagu daerah seperti Ayo Mama dan Laju-Laju dalam bahasa Mandarin. Publik Shanghai terkesan. Setelah itu, setiap tahun mereka diundang tampil ke kota-kota di China, seperti Nanning, Shatou, sampai Guang Zhou.

Selain lagu daerah, Harry dan Iin juga memperkenalkan lagu Indonesia dalam bahasa Mandarin, seperti Sepanjang Jalan Kenangan yang diubah menjadi Zai Wo Men Ai De Lu Tu Shang. Mereka juga me-mandarin-kan lagu Ismail Marzuki, Rayuan Pulau Kelapa.

Kini, dalam album “Chinese New Year Special” yang dirilis GNP dalam rangka Imlek, Harry dan Iin ikut membawakan lagu Tapanuli, Sinanggar Tulo, dalam versi Mandarin. Mereka juga melantunkan Keroncong Kemayoran versi Mandarin, sedangkan versi bahasa Indonesia dibawakan Mus Mulyadi dan Sundari Sukoco.

Anak sinden

Harry dan Iin sama-sama berangkat dari hobi. Harry anggota kelompok vokal saat duduk di SMA Negeri III Solo. Iin tumbuh dalam keluarga pesinden. Ibunya, Nyi Sudarmi, adalah pesinden pada karawitan Jawa RRI Surakarta yang mendapat nama dari Keraton Surakarta sebagai Nyi Raras Madu.

“Sejak kecil saya didorong untuk ikut lomba macapat, menyanyi tembang Jawa,” kata Iin yang berasal dari Kampung Slembaran, Serengan, Solo.

Kemampuan vokal mereka teruji lewat kontes nyanyi Bintang Radio dan Televisi (BRTV) di RRI Surakarta. Mereka masing-masing pernah menjadi juara pertama pada tahun yang berbeda.

Sekitar akhir 1980-an, keduanya melihat peluang menjanjikan untuk menyanyi lagu Mandarin di Solo. Mereka masing-masing—tidak berduet—bernyanyi di rumah makan, kafe, atau perhelatan perkawinan di Solo dan sekitarnya. Lagu seperti Yue Liang Dai Biao Wo De Xin (Bulan Mewakili Hatiku) yang dipopulerkan biduan Taiwan terkenal Teresa Teng, merupakan lagu wajib mereka.

“Awalnya saya cuma belajar dari dengerin kaset lagu-lagu Teresa Teng. Saya cuma menirukan saja, dan tak mengerti artinya,” tutur Iin.

Pada awal tahun 1990-an Harry hijrah ke Jakarta. Iin menyusul pada pertengahan 1990-an setelah diajak Harry untuk beraudisi di GNP.

Belakangan, setelah bergabung dengan GNP mereka lebih intensif melatih kemampuan melafalkan lirik Mandarin. Pasalnya, untuk berhadapan dengan publik berbahasa Mandarin, lafal mereka harus benar-benar pas. Oleh Hendarmin, mereka dikirim ke Shanghai untuk belajar bahasa.

“Kami menggunakan bahasa Mandarin agar mereka bisa mengerti arti lagu. Kami ingin mengenalkan Indonesia lewat lagu-lagu daerah yang indah,” kata Iin. (Kompas.)
 
Rating Berita : Very Good
 
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar